Menyuarakan Lagi Kemasan Berbahan Bambu

Kemasan berbahan bambu sudah dipraktekkan nenek moyang kita. Era industri menyeret kemasan yang ramah lingkungan tersebut hingga hampir-hampir saja hilang dari ingatan masyarakat kekinian.
Share it:


Kemasan berbahan bambu sudah dipraktekkan nenek moyang kita. Era industri menyeret kemasan yang ramah lingkungan tersebut hingga hampir-hampir saja hilang dari ingatan masyarakat kekinian.

"Beberapa kali, saya melihat share teman-teman, tayangan video yang memperlihatkan tempat makan yang ramah lingkungan, terbuat dari lembaran daun, dijadikan disposable plate, atau sendok garpu yang bisa dimakan, dll," terang Eep S Maqdir dalam akun Facebooknya.

Pada sosmednya tersebut, pria yang aktif di Swadaya Petani Indonesia dan Komunitas Raksa Bambu ingin menyuarakan lagi kemasan berbahan bambu sebagaimana berikut:

Sebenarnya, nenek moyang kita ini tidak kalah dalam hal membuat tempat makan, packaging, dll. Salah satunya adalah PIPITI (besek). Pipiti ini bisa menjadi alat kemasan yang ramah lingkungan, terbuat dari anyaman bambu.

Saya inget dulu sewaktu kecil, tetangga kalau hajat (kenduri), suka ngirim makanan kepada yang lain dengan menggunakan kemasan pipiti ini. Isinya biasanya: nasi, gepuk, ikan pepetek, kentang, telor rebus, kadang ada olahan cabe, dan bihun kol. Yang paling saya kejar adalah kerupuknya, berukuran besar, putih, pinggirannya berwarna. Walaupun kadang kondisinya sudah melepes, liat, tapi disitulah enaknya :v

Tahun 2017 ini, kawan-kawan dari komunitas bambu, akan kembali menyuarakan tentang potensi tanaman bambu. Baik sebagai tanaman konservasi, maupun untuk industri. Bambu bisa menyimpan air, akarnya sangat kuat untuk menahan tanah/tebing, rebungnya bisa jadi bahan pupuk organik, dll. Bambu sendiri bisa diolah menjadi plyboo (pengganti plywood), lembaran papan dari bahan bambu, dan berbagai macam olahan lainnya. Untuk arsitektur, bambu juga bisa digunakan untuk struktur. Dengan pengolahan yang tepat bambu dapat awet puluhan tahun sebagai bagian dari kontruksi bangunan.

Menurut pakar bambu, Kang Pon S. Purajatnika, bambu bisa menjadi beberapa produk:
1. Produk berbasis anyam: kemasan, kerajinan, interior, alat rumah tangga
2. Produk berbasis bambu batang: bangunan, kerajinan, interior, alat rumah tangga.
3. Produk berbasis bambu bilah: kerajinan, papan/plyboo, balok konstruksi/laminated
4. Produk bambu berbasis bubur/pulp dan serat: buat kertas dan textile
5. Produk bambu berbasis rebung dan air bambu: makanan, biofuel/bahan bakar dan obat obatan
6. Produk bambu berbasis daun: teh bambu, kerajinan, kemasan
7. Produk bambu berbasis sampah produksi: arang bambu/carcoal, particle board, papan kedap suara/acoustic board

Indonesia memang kagak ada matinya soal kekayaan alam. Dan leluhur kita sangat bijak, dengan kearifan lokalnya: “Gawir Awian” (tebing, tanami bambu).

So, untuk hidup berkeseimbangan dengan alam, ga perlu jauh-jauh belajar ke manca negara, leluhur kita sudah lebih dulu faham. Tinggal kita mau menggalinya atau tidak.

Beberapa teman telah mengapresiasi postingan Eep S Maqdir tersebut. "Ayo kembali melirik bambu sbg warisan alam yg luar biasa utk kehidupan semua makhluk," komentar Dhanny Rhismayaddi Natawinangun sembari menyisipkan foto dengan pose memegang sepeda bambu.

(dipublikasikan ulang dengan seizin ybs)
Share it:

Packaging Knowledge

Post A Comment:

0 comments:

Anda dapat berkomentar di bawah ini atau berdiskusi antar sesama pengunjung situs ini. Bilamana ada pertanyaan atau pekerjaan baru untuk pengelola situs, silahkan hubungi via telepon/email kami.